Nanang SURYANA

the value of each person lies in the good he does

Archive for the ‘Cerita Hikmah’ Category

Arab Badui dan Filsuf

Posted by nanangsuryana on September 23, 2008

ALKISAH, seorang Arab Badui bermaksud menjual sekarung gandum ke pasar. Berulangkali ia mencoba meletakkan karung itu di atas punggung unta; dan berulangkali ia gagal. Ketika ia hampir putus asa, terkilas pada pikirannya pemecahan yang sederhana. Ia mengambil satu karung lagi dan mengisinya dengan pasir. Ia merasa lega, ketika kedua karung itu bergantung dengan seimbang pada kendaraannya. Segera ia berangkat ke pasar.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang asing yang berpakaian compang-camping dan berkaki telanjang. Ia diajak oleh orang asing itu untuk berhenti sejenak, beristirahat, dan berbincang-bincang. Sebentar saja, orang Badui itu menyadari bahwa yang mengajaknya berbincang itu orang yang banyak pengetahuan. Ia sangat terkesan karenanya. Tiba-tiba, orang asing itu menyaksikan dua buah karung bergantung pada punggung unta.

“Bapak, katakan apa yang bapak angkut itu; kelihatan sangat berat”, tanya orang asing itu. “Salah satu karung itu berisi gandum yang akan saya jual ke pasar. Satu lagi karung berisi pasir untuk menyeimbangkan keduanya pada punggung unta”, jawab orang Badui. Sambil tertawa, orang pintar itu memberi nasehat, “Mengapa tidak ambil setengah dari karung yang satu dan memindahkannya ke karung yang lain. Dengan begitu, unta menanggung beban yang ringan dan ia dapat berjalan lebih cepat.”

Orang Badui takjub. Ia tidak pernah berpikir secerdik itu. Tetapi sejenak kemudian, ketakjubannya berubah menjadi kebingungan. Ia berkata, “Anda memang pintar. Tapi dengan segala kepintaran ini mengapa Anda bergelandangan seperti ini, tidak punya pekerjaan dan bahkan tidak punya sepatu. Mestinya kepandaian Anda yang dapat mengubah tembaga menjadi emas akan memberikan kekayaan kepada Anda.”

Orang asing itu menarik nafas panjang, “Jangankan sepatu, hari ini pun saya tidak punya uang sepeser pun untuk makan malam saya. Setiap hari, saya berjalan dengan kaki telanjang untuk mengemis sekerat atau dua kerat roti.”

“Lalu apa yang Anda peroleh dengan seluruh kepandaian dan kecerdikan Anda itu.”

“Dari semua pelajaran dan pemikiran, aku hanya memperoleh sakit kepala dan khayalan hampa. Percayalah, semuanya itu hanya bencana bagiku, bukan keberuntungan.”

Orang Badui itu berdiri, melepaskan tali unta, dan bersiap-siap untuk pergi. Kepada filsuf yang kelaparan di pinggir jalan, ia memberi nasehat, “Hai, orang yang tersesat. Menjauhlah dariku, karena aku kuatir kemalanganmu akan menular kepadaku. Bawalah semua kepandaianmu itu sejauh-jauhnya dariku. Sekiranya dengan ilmumu itu kamu ambil suatu jalan, aku akan mengambil jalan yang lain. Sekarung gandum dan sekarung pasir boleh jadi berat; tetapi itu lebih baik daripada kecerdikan yang sia-sia. Anda boleh jadi pandai, tetapi kepandaian Anda itu hanya kutukan; saya boleh jadi bodoh, tapi kebodohan saya mendatangkan berkat, karena walaupun saya tidak cerdik, tetapi hati saya dipenuhi rahmat-Nya dan jiwa saya berbakti kepada-Nya.” (Penggalan cerita yang diambil dari Tuhan yang Disaksikan Bukan Tuhan yang Didefinisikan, Jalaluddin Rakhmat).

 

Posted in Cerita Hikmah | Tagged: | Leave a Comment »

Cinta dan Waktu

Posted by nanangsuryana on August 27, 2008

Alkisah terdapat sebuah pulau di mana penghuninya adalah semua jenis perasaan, yaitu Kekayaan, Kesenangan, Kesedihan, Kesombongan, Ilmu, Waktu dan kawan-kawannya termasuk Cinta.

Suatu hari diumumkan kepada semua perasaan bahwa pulau itu akan tenggelam ke dasar lautan. Tidak lama kemudian semua perasaan bergegas mempersiapkan perahu masing-masing untuk pergi dari pulau itu.

Tinggallah Cinta seorang diri. Dia memutuskan untuk tinggal dan memelihara keindahan pulau itu sampai saat terakhir. Namun ketika pulau itu hampir sepenuhnya tenggelam, akhirnya Cinta memutuskan untuk segera pergi. Dia mulai mencari pertolongan dari teman-temannya.

Tak berapa lama, Kekayaan lewat sambil mengemudikan perahunya yang besar dan megah. Kemudian Cinta bertanya, “Kekayaan, bolehkah aku ikut perahumu?”. Jawab Kekayaan, “Maafkan aku, tapi kapalku sudah penuh dengan emas dan perak. Tak ada lagi tempat untukmu”.

Lalu Kesombongan lewat dengan kapalnya yang indah. Sekali lagi Cinta memohon, “Kesombongan, tolonglah aku!” “Aku tak bisa menolongmu!” jawab Kesombongan. “Kamu basah kuyup, aku takut kapalku yang indah ini akan rusak!!!”

Kemudian Cinta melihat Kesedihan lewat, Cinta berkata, “Kesedihan, izinkanlah aku ikut denganmu!” Kesedihan berkata, “Maafkan aku, Cinta. Saat ini aku sedang ingin sendiri.”

Akhirnya Cinta melihat perahu Kesenangan lewat. Cinta menjerit memohon, “Kesenangan, tolong bawa aku bersamamu!” Tapi Kesenangan terlalu larut dengan kegembiraannya sehingga tak mendengar jeritan Cinta yang memanggilnya.

Cinta menangis dan mulai putus asa, ketika tiba-tiba ia mendengar suara berkata, “Ayo Cinta, aku akan membawamu pergi bersamaku.” Ternyata seorang Kakek Tua telah berbaik hati mengajaknya serta. Ketika mereka telah mendarat pada suatu pulau, Kakek itu segera pergi meneruskan perjalanannya.

Sementara Cinta merasa sangat senang dan bahagia hingga dia lupa untuk berterima kasih pada Kakek yang telah menyelamatkannya. Cinta sadar betapa ia sangat berhutang budi pada Kakek itu.

Kemudian Cinta bertemu dengan Ilmu dan bertanya, “Siapakah Kakek Tua yang telah menyelamatkanku itu?” “Dia adalah Waktu”, jawab Ilmu. “Tetapi mengapa Waktu mau menolongku sementara yang lain tidak?”, tanya Cinta. Ilmu tersenyum lalu dengan bijak dan tulus menjawab, “Karena hanya Waktu yang mampu memahami betapa agungnya Cinta”.

(Haidar Bagir, Kisah-kisah Pembawa Berkah, Penerbit Yasmin dan IIMaN PRESS, Jakarta, 2004)

 

Posted in Cerita Hikmah, Uncategorized | Tagged: , , | 1 Comment »